KESURUPAN DALAM PANDANGAN ISLAM


KESURUPAN DALAM PANDANGAN ISLAM
Terkait dengan fenomena kesurupan jin, manusia terbagi menjadi dua kelompok, yaitu mereka yang mempercayainya dan mereka yang mengingkarinya. Mayoritas umat muslim mempercayai adanya kesurupan jin. Ada pun yang mengingkarinya, mereka menganggap bahwa fenomena itu bukan kesurupan jin. Keyakinan ini menjadi salah satu prinsip aliran liberal yang mengikuti pendahulu mereka yaitu sekte Mu’tazilah. Yang kedua ini adalah keyakinan yang menyimpang karena mereka lebih mengedepankan akal dan logika sederhana ketimbang al-Qur’an dan sunnah. 
Lalu bagaimana Islam memandang fenomena ini?
Terdapat banyak dalil dari al-Qur’an dan hadits yang menggambarkan keberadaan penyakit kesurupan jin. Di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menceritakan keadaan pemakan riba ketika dibangkitkan:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا.... 
"Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba...” (QS. Al-Baqarah: 275)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maksud ayat ini, pemakan riba tidak akan dibangkitkan dari kubur mereka pada hari Kiamat kecuali seperti dibangkitkannya orang yang kesurupan dan kerasukan setan. Karena ia berdiri dengan cara yang tidak benar. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Pemakan riba dibangkitkan pada hari Kiamat seperti orang gila yang tercekik”.
Dalam hadits, dari Abul Aswad as-Sulami radhiyallahu ‘anhu bahwa di antara do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنِي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَدْمِ، وَ أَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي، وَ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ، وَالْحَرِيْقِ، وَ أَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ..... عِنْدَ المَوْتِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ditimpa benda keras, aku berlindung kepada-Mu damati terjatuh, aku berlindung kepada-Mu dari tenggelam dan kebakaran, dan aku berlindung kepada-Mu dari keadaan setan merasuki badanku ketika kematian.” (HR. An-Nasa’i)
Al-Munawi rahimahullah menjelaskan, “Setan merasuki badan ketika mendekati kematian dengan gangguan yang bisa menggelincirkan kaki, merasuki akal dan pikiran. Terkadang setan menguasai seseorang ketika hendak meninggal dunia sehingga dia bisa menyesatkannya dan menghalanginya untuk bertaubat.”
Baca Juga Artikel Berikut:
Kerasukan jin masuk ke tubuh manusia adalah kejadian yang hakiki, bukan hayalan. ‘Abdullah bin Imam Ahmad rahimahullah pernah bertanya kepada ayahnya (Imam Ahmad), “Sesungguhnya ada beberapa orang berpendapat bahwa jin tidak bisa masuk ke badan manusia”. Imam Ahmad rahimahullah menjawab, “Wahai anakku! Mereka dusta. Jin itulah yang berbicara dengan lisan orang yang dirasuki.”
Setelah membawakan keterangan ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memberi komentar, “Apa yang disampaikan Imam Ahmad adalah masalah yang terkenal di masyarakat. Orang yang kerasukan berbicara dengan bahasa yang tidak bisa dipahami maknanya. Terkadang dia dipukul sangat keras, andaikan dipukulkan ke onta pasti akan menimbulkan sakit. Meskipun demikian, orang yang kesurupan tidak merasakan pukulan dan tidak menyadari ucapan yang dia sampaikan.” Beliau juga mengatakan, “Orang yang menyaksikan kejadian kesurupan dia akan mendapatkan kesimpulan yang meyakini bahwa yang berbicara dengan lidah manusia dan yang menggerakkan badannya adalah makhluk lain, selain manusia.”
Syaikhul Islam menegaskan di dalam fatwanya, “Tidak ada satu pun ulama Islam yang mengingkari jin bisa masuk ke badan orang yang kesurupan dan lainnya. Orang yang mengingkari hal ini dan mengklaim bahwa syari’at mendustakan anggapan jin bisa masuk ke badan manusia, berarti dia telah berdusta atas nama syari’ah. Karena tidak ada satupun dalil syari’at yang membantah hal itu.”
Syaikhul Islam rahimahullah juga menjelaskan, “Jin yang merasuki manusia bisa saja terjadi karena dorongan syahwat atau hawa nafsu atau karena jatuh cinta. Sebagaimana yang terjadi antara manusia dengan manusia. Bisa juga terjadi karena kebencian atau kezhaliman yang dilakukan manusia, misalnya ada orang yang mengganggu jin atau jin mengira ada seseorang yang sengaja mengganggu mereka, baik dengan mengencingi jin atau membuang air panas ke arah jin atau membunuh sebagian jin meskipun si manusia sendiri tidak mengetahuinya. Namun jin juga bodoh dan zhalim sehingga dia membalas kesalahan manusia dengan kezhaliman melebihi yang dia terima. Terkadang juga motivasinya hanya sebatas main-main atau mengganggu manusia sebagaimana dilakukan orang jelek di kalangan manusia.” 

Tidak ada komentar